Jumat, 06 Maret 2015

Disangka Punah Sejak 1914, Burung Ini Muncul Kembali

Peneliti berhasil menemukan burung Jerdon's Blabber (Chrysomma altirostre) yang disangka telah punah, di Myanmar.

Disangka Punah Sejak 1914, Burung Ini Muncul KembaliBurung Jerdon's Blabber (Chrysomma altirostre), burung yang telah dianggap punah karena keberadaannya yang terakhir kali diketahui pada tahun 1914, kini ditemukan kembali di suatu wilayah terbuang di Myanmar (Robert Tizard/WCS)
Sejak dijumpai terakhir kali di sebuah padang rumput dekat kota Myitkyo, Myanmar, Juli 1941, burung Jerdon’s Blabber tidak pernah lagi terlihat. Namun pada 30 Mei 2014 lalu, sekelompok tim dari WCS, MOECAF (Divisi Konservasi Lingkungan Hidup dan Alam di Myanmar), dan NUS (National University of Singapore) menemukan kembali keberadaan burung tersebut di salah satu lahan agrikultur saat mereka sedang melakukan survey kawasan terbuang.
Dalam empat hari ke depan, tim ilmuwan terus-terusan mendapati burung Jerdon’s Blabber dewasa di sekitar kawasan tersebut. Mereka lalu mengambil sampel darah dan foto dari burung tersebut untuk kemudian diteliti kebenaran spesiesnya.
Salah satu burung Jardon’s Blabber kecil seukuran burung pipit berwarna cokelat yang ditemukan tim telah secara langsung diidentifikasikan sebagai Chrysomma altirostre oleh si penemu spesies burung itu sendiri, T.C. Jerdon, pada Januari 1862.
Direktur WCS’s Regional Conservation Hub di Singapura, Mr. Colin Poole, mengatakan, “Degradasi luas kawasan padang rumput ini yang dipercaya menjadi penyebab punahnya burung Jerdon’s Blabber.”
“Oleh karena itu,” ia menambahkan, “upaya selanjutnya yang harus dilakukan adalah dengan mengusahakan pemeliharaan padang rumput demi melindungi habitat burung Jerdon’s Blabber dan mensosialisasikannya kepada komunitas lokal untuk membantu pemeliharaan konservasi.”
Analisa lebih lanjut dari sampel DNA burung Jerdon’s Blabber akan dilakukan di jurusan Biological Science di NUS, Singapura, untuk mengetahui apakah spesies burung Jerdon yang ditemukan di Myanmar tersebut merupakan spesies utuh atau tidak. Jika benar demikian, spesies tersebut akan dijaga di Myanmar dan pemeliharaan habitatnya akan diberi perhatian penuh oleh pemerintah.
(Difa Restiasari. Sumber: Science Daily.)

Karya Sastra dari Tambora

Kisah meletusnya Tambora banyak dibuat oleh para sastrawan Nusantara.

Karya Sastra dari TamboraSiluet pendaki di puncak Gunung Tambora berketinggian 2.850 meter. Gunung bertipe stratovolcano aktif ini terletak di Pulau Sumbawa, Indonesia dan pernah mengalami letusan mahadahsyat tahun 1815. (Firman Firdaus/National Geographic Indonesia)
"..maka teranglah hari, maka melihat rumah dan tanaman sudah rusak semuanya."
Petikan di atas merupakan bagian dari sajak 'Alamat Pecah Gunung Tambora' yang ditulis Bo' Sangaji Kai.
Begitu kuat membekas dalam memori orang-orang yang saat itu menyaksikan kedahsyatan erupsi gunung Tambora 200 tahun silam, sehingga syair dan sajak tentangnya banyak dibuat oleh sastrawan-sastrawan Nusantara.
Dalam salah satu kisah yang ditulis oleh Roorda van Eysinga, berjudul "Asal Mula Meletusnya Gunung Tambora", dikisahkan bahwa Tambora meletus akibat murkanya seorang musafir dari Bengkulu yang bernama Tuan Said Idrus.
Bermula dari datangnya Tuan Said Idrus ke tanah Tambora, ia sampai ke suatu masjid yang di dalamnya terdapat seekor anjing yang sedang tidur. Tuan Said Idrus lantas memukul dengan maksud mengusir sang anjing, yang ternyata dijaga oleh seorang penduduk lokal. Kontan sang penjaga marah, mengatakan kepada Tuan Said bahwa pemilik anjing tersebut adalah sang Raja Tambora.
Menolak pengakuan siapa persisnya pemilik sang anjing, Tuan Said Idrus berkata, “Siapapun pemiliknya, pekarangan ini suci karena merupakan pekarangan masjid, rumah Tuhan, Allah subhanallahuwataala. Dia yang membawa binatang ini ke rumah Allah berarti seorang yang kafir.”
Atas pengaduan sang penjaga anjing yang marah kepada Raja atas ucapan Tuan Said Idrus, Raja mengutus orang untuk membunuh Tuan Said di atas gunung Tambora.
Singkatnya, setelah pembunuhan Tuan Said Idrus, meletuslah gunung Tambora dan menjadikannya salah mitos penyebab terjadinya letusan gunung Tambora di tanah Sumbawa: balas dendam dari Tuan Said Idrus atas pembelaan yang ia lakukan untuk rumah Tuhannya.
Dari mitos dan kisah-kisah rakyat itulah Tambora dikenal, menggelitik para peneliti untuk melakukan riset-riset lebih lanjut akan keberadaan gunung Tambora dan penyebab ilmiah terjadinya letusan pada April 1815 lalu.
(Difa Restiasari)

Harrison Ford Alami Kecelakaan Pesawat

Bintang film Indiana Jones itu terluka dalam sebuah kecelakaan pesawat kecil di Los Angeles.

Harrison Ford Alami Kecelakaan PesawatPesawat yang dikemudikan bintang Indiana Jones itu jatuh di lapangan golf di Los Angeles, Amerika Serikat. (Reuters via BBC Indonesia)
Aktor Amerika Serikat Harrison Ford terluka dalam sebuah kecelakaan pesawat kecil di Los Angeles, lapor media AS.
Aktor berusia 72 tahun, yang telah membintangi film-film terlaris seperti Indiana Jones dan Star Wars, menderita sejumlah luka di bagian kepala.
Menurut dinas pemadam kebakaran Los Angeles (LAFD) mengatakan, saat diberi pertolongan Ford masih dalam keadaan sadar.
Ford mengemudikan pesawat bermesin tunggal itu saat jatuh ke sebuah lapangan golf di Venice, dekat bandara Santa Monica.
Rekaman udara menunjukkan sebuah pesawat terjatuh di tanah dan satu orang korban dirawat oleh dua orang dokter sebelum dibawa ke rumah sakit.
Penyebab kecelakaan itu kini tengah diselidiki.
Patrick Butler dari LAFD mengatakan mereka menerima panggilan darurat 911 pada pukul 14:20 (22:20 GMT) dan segera pergi ke lokasi kecelakaan pesawat di Penmar Golf Course, Los Angeles, Amerika Serikat.
Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh situs TMZ dan kemudian dikonfirmasi oleh media AS lainnya.
TMZ mengatakan Ford menderita "sejumlah luka di kepalanya" dan ia dirawat di tempat kejadian oleh dua dokter yang kebetulan berada di lapangan golf, sebelum dibawa ke rumah sakit.
Pemain berusia 72 tahun ini akan kembali memerankan tokoh Han Solo dalam film terbaru Star Wars, Star Wars: The Force Awakens, pada akhir tahun.
(bbc.co.uk/indonesia)

Upacara Pemanggil Hujan dan Uniknya Pemakaman di Tambora

Beragam cerita setelah meletusnya gunung Tambora #Tambora200

Upacara Pemanggil Hujan dan Uniknya Pemakaman di TamboraEditor Teks Firman Firdaus dan Kartografer Sony Warsono mengibarkan bendera NatGeo Society yang menginspirasi penjelajahan di bumi di Puncak Tambora. (dok. 200 Tahun Gelegar Tambora)
Beragam cerita yang datang dari timur, tepatnya dari gunung Tambora. Mulai dari pemakaman yang berbeda, serta upacara dewa untuk memanggil hujan.
Biasanya orang yang sudah meninggal dunia, tentu wajib bagi kita yang masih dapat berdiri diatas bumi tua ini untuk menguburkan atau melakukan kremasi. Tentu dengan doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan agar diterima di surga.
Biasanya bagi kaum muslim, jenazah sebelum dikubur tentu dihadapkan ke arah kanan. Namun berbeda dengan kaum muslim di sekitar gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat. Beberapa pemakaman di sekitar gunung Tambora ini, jenazah ini menghadap ke gunung Tambora. Sungguh unik dan berbeda.
Berbeda dengan pemakaman, warga di Sumbawa ini kerap melakukan upacara Raja Alam untuk memanggil hujan. Bagaimana caranya? Melalui media gendang yang berukiran tulisan bugis yang hingga saat ini pun belum dapat terpecahkan makna dari tulisan bugis tersebut. Menabuh gendang dengan mantra pemanggil hujan, berharap kepada sang Raja Alam turut mendoakan kepada Tuhan melalui Sang Maharaja. Ya, warga di Sumbawa ini walaupun sudah menganut ajaran agama namun masih mempercayai tradisi upacara tersebut.
Sahabat! Ingin mengetahui lebih lanjut kisahnya? Datang dan meriahkanlah semarak gelegar Tambora 200 pada Fokus Expo 2015 pada 7 Maret 2015 di Jakarta Convention Center. Pukul 9.00 - 10.00 WIB dan 14.00 - 15.00 WIB. Tim National Geographic akan sharing tentang pengalamannya menjelajahi gunung Tambora. Tidak hanya itu, tim kami juga sharing mengenai foto langsung di gunung Tambora. Ayo! Semarakan bersama, asah kemampuan memotret sahabat dan pengetahuan baru pendakian ke gunung Tambora. Ditunggu ya!
(Winda Ayu Larasati)

Olympus OM-D E-M5 mk II Telah Rilis di Indonesia

Olympus Indonesia meluncurkan produk terbarunya pada hari Kamis (5/3) kemarin.

Olympus OM-D E-M5 mk II Telah Rilis di IndonesiaPress release kamera mirrorless Olympus OM-D E-M5 mk II pada hari Kamis (5/3) lalu di acara Focus Mega Bazaar (Alfath Arya N.)
Kabar baik dari salah satu produsen kamera asal Jepang, Olympus, yang pada tanggal 5 Maret lalu baru meluncurkan produk kamera mirrorless terbarunya yaitu tipe OM-D E-M5 mk II. Kamera ini merupakan lanjutan dari pendahulunya, OM-D E-M5 yang dirilis pada tahun 2012. Yang membedakan E-M5 mk II dari E-M5 adalah adanya penambahan fitur Image Stabilization (IS) dengan menggunakan teknologi Voice Coil Motor 5 poros. Kabarnya, teknologi tersebut merupakan teknologi IS terbaik dan terstabil saat ini. Yang membedakan IS E-M5 mk II dengan IS kamera lainnya adalah IS E-M5 mk II terdapat di body kamera, sementara kamera lainnya memiliki IS di lensa. Selain itu, kamera ini juga sangat cocok bagi anda fotografer yang sering terjun ke medan ekstrim karena E-M5 mk II sudah dilengkapi fitur anti cipratan air dan anti debu, juga konstruksi kamera yang kuat. Dengan E-M5 mk II ini, Olympus mengutamakan kemudahan bagi para penggunanya, juga berusaha untuk menawarkan sensasi SLR lewat kamera mirrorless.

Olympus OM-D E-M5 mk IIOlympus OM-D E-M5 mk II (Alfath Arya N.)
Untuk gelombang pertama, Olympus menyediakan 2 paket E-M5 mk II. Yang pertama dengan lensa ED 12-5mm f3,5-6,3 EZ yang dibanderol dengan harga 17.999.000 rupiah, dan yang kedua dengan lensa ED 12-40 mm f2,8 PRO akan dibanderol dengan harga22.999.00022.999.000 rupiah. OM-D E-M5 mkII akan mulai beredar di gerai-gerai kamera mulai akhir bulan Maret, dan opsi lensa-lensa Zuiko tipe lainnya beredar mulai bulan April.
(Alfath Arya Nugraha)

Suasana dalam Kabin Saat Pesawat Delta Airlines Keluar Landasan Pacu

"Ada yang tenang, ada yang berdoa, ada yang sangat ketakutan, ada yang menangis."

Suasana dalam Kabin Saat Pesawat Delta Airlines Keluar Landasan PacuPesawat milik maskapai Delta nyaris jatuh ke perairan Flushing Bay, East River setelah tergelincir di bandara LaGuardia, New York, Kamis (5/3). (Craig Ruttle/AP via Kompas.com)
Pesawat milik Delta Airlines meluncur keluar runway atau landasan pacu di bandara LaGuardia, New York, Amerika Serikat, Kamis (5/3). Departemen Pemadam Kebakaran New York City menyebut ada 24 orang yang terluka dan mendapat perawatan.
Beruntung, tidak ada yang menderita luka serius dalam kecelakaan di bandara yang sedang 'diselimuti' salju tersebut. Hanya tiga orang yang dibawa ke rumah sakit, dengan luka yang tidak mengancam keselamatan jiwa.
Dilansir dari CNN, suasana di dalam pesawat terasa "campur aduk", meskipun didominasi oleh kepanikan. Seorang penumpang bernama Jared Faellaci mengatakan, penumpang mulai merasakan ketidakberesan dengan pesawat yang ditumpangi beberapa detik setelah mendarat di runway. Penumpang merasa roda pesawat tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
"Anda seperti merasakan roda pesawat tidak bekerja," ujar Faelacci kepada CNN. Saat itulah penumpang mulai berpikir, "sepertinya inilah akhir perjalanan kita".
Pesawat MD-88 buatan McDonell Douglas itu pun kemudian meluncur keluar landasan Runway 13 selama 20 detik. Hingga akhirnya, pesawat dengan 127 penumpang dan 5 awak itu berhenti dengan moncong yang menabrak pagar pembatas.
Hanya beberapa meter, perairan Flushing Bay, East River terlihat terhampar di depan moncong pesawat. Beruntung pesawat tidak jatuh ke perairan yang sedang membeku itu.
Seketika suasana hening begitu terasa di dalam pesawat. "Itu menjadi momen untuk berdoa, momen untuk bersyukur. Karena orang-orang sangat ketakutan," ujar Faellaci. "Pilot melakukan kerja yang mengagumkan," lanjutnya.
Setelah itu, suasana kembali campur-aduk di dalam pesawat dengan nomor penerbangan 1086 tersebut. "Ada yang tenang, ada yang berdoa, ada yang sangat ketakutan, ada yang menangis," ucap Faellaci.
Begitu pesawat dipastikan berhenti, ada sejumlah penumpang yang panik dan tergesa-gesa ingin segera keluar. "Sebagian besar masih teratur," tutur Faellaci.
Delta mengatakan penumpang turun dari pesawat menggunakan seluncuran. Tapi Direktur Otoritas Bandara New York dan New Jersey Patrick Foye mengatakan tidak ada seluncuran. Penumpang keluar lewat pintu darurat di atas sayap pesawat, kemudian turun dengan bantuan petugas.
Meski begitu, Foye memuji keandalan pilot. "Saya pikir pilot telah melakukan segalanya untuk memperlambat laju pesawat," ucapnya, dikutip dari New York Times.
Juru bicara otoritas bandara New York dan New Jersey, Joe Pentangelo, mengatakan, pesawat MD 88 itu keluar dari runway sekitar pukul 11.10 waktu setempat.
Setelah kecelakaan itu, otoritas setempat pun segera menutup operasional Bandara LaGuardia. Administrasi Penerbangan Federal (FAA) mengatakan bahwa bandara baru akan dibuka kembali pukul 18.59 waktu setempat.
(Bayu Galih/Kompas.com, Sumber: CNN, New York Times)

Sabtu, 28 Februari 2015

Dua Pesona Tersembunyi di Kaki Gunung Ungaran

Panorama alam di bawah mata kaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah ternyata masih sangat alami.

Dua Pesona Tersembunyi di Kaki Gunung UngaranCurug Benowo di kaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah. (Nazar Nurdin/Kompas.com)
Alam bawah Gunung Ungaran masih sangat segar hingga membuat wisatawan berbondong-bondong mengunjungi tempat ini. Ya, meski tak banyak jejak pembangunan infrastruktur, kondisi ini justru dimanfaatkan wisatawan untuk bisa lebih dekat dengan alam.
Di mata kaki Gunung Ungaran bagian barat, dua objek wisata alam hadir dan memanjakan mata. Ada dua wisata air terjun. Warga menamakan dua tempat itu: Curug Benowo dan Curug Lawe. Baik Curug Benowo dan Lawe bertempat di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Perlu waktu satu jam perjalanan dari Kota Semarang untuk melihat keindahan alam ini. Namun tempat wisata ini tergolong mudah ditemukan.
Sebelum anda masuk, Anda bisa melewati Kecamatan Gunung Pati, atau arah Kota Semarang bagian Selatan. Petunjuk arah Curug Lawe sudah menanti jika sudah mulai masuk ke arah gunung. Anda tak akan bosan melihat pemandangan alam sepanjang perjalanan. Para pedagang durian dan rambutan berjejer menawarkan dagangannya. Pun, Kota Semarang mulai terlihat ketika mulai sampai di titik pendakian.
Setelah masuk di area pintu masuk curug, tiket masuk untuk dua wisata itu hanya Rp4.000. Tarif yang relatif murah itu bukan berarti tempat wisata yang ada tidak bagus. Justru, wisata yang relatif murah inilah yang menandakan objek wisata ini masih belum dibangun infrastrukturnya—atau dilirik pemerintah setempat.
Sebelum masuk ke lokasi, sebaiknya Anda membawa bekal tersendiri. Pasalnya, beban berat menanti. Jarak Curug Lawe - Benowo dari pintu masuk sangat jauh, dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tidak ada tumpangan, dan Anda harus masuk berjalan kaki menyusuri hutan yang penuh dengan semak belukar, pepohonan, jalan yang naik-turun bebatuan. Kira-kira satu hingga dua jam perjalanan dari pintu masuk jika jalan anda cepat.
Ketika jalan kaki, Anda juga harus berkonsentrasi penuh. Jalan setapak yang menyusur ke bawah hanya cukup untuk satu orang secara bergantian. Lebar jalan yang kurang dari satu meter mengharuskan anda untuk hati-hati, lantaran di sekeliling jalan ada jurang yang menanti. Meski begitu, jalur itu aman untuk dilalui. Setelah jalur itu selesai, Anda akan melewati jalan di atas bukit yang terbuat dari Baja yang di bawahnya dilapisi dengan kayu. Jalur itu kerap digunakan wisatawan untuk berfoto ria. Anda harus bersiap karena jalur yang dilalui banyak bebatuan, berkelok dan panjang. Anda juga melewati beberapa sungai dalam perjalanan naik turun gunung itu.
Setelah berjalan panjang, rasa lelah anda akan terbayarkan dengan pemandangan luar biasa dari air terjun yang ada di balik gunung. Baik Curug Lawe maupun Curug Benowomenawarkan panorama luar biasa, yang semuanya membuat Anda akan berlama-lama di sana.
“Saya puas. Jalan yang jauh itu akhirnya terbayarkan dengan curug ini. Amazing,” ujar Abdus Salam (25), wisatawan asal Semarang, akhir pekan kemarin.
Setelah sampai di Curug Benowo, ternyata ada ratusan warga yang mengantre melihat dua surga tersembunyi di bilik gunung Ungaran itu. Ketika sampai di Curug Benowo, pemandangan akan terasa beda.
Corak air tejun mengalir dari atas tebing setinggi kurang lebih 30 meter. Air yang meluncur ke bawah terlihat begitu indah, karena cucuran air terselip di tengah tebing lain yang sama-sama tinggi menjulang.
Sementara menuju Curug Benowo, kondisi lebih alami. Rimbunnya pepohonan memaksa sinar matahari tertahan di atas pohon. Kondisi di sekitar Curug Lawe seperti fajar, tapi sangat ramai wisatawan.
Corak air tejun terlihat lebih lebar dan mencucur deras dari atas tebing. Beberapa mata air juga mencucur deras di tebing sekitarnya. Arus air terjun lebih lebat dari Curug Benowo. Tempat ini lebih ramai pengunjung, lantaran aksesnya lebih mudah.
Ratusan wisatawan pun mengabadikan diri dengan latar air terjun. Meski ponsel dan kamera terkena embusan debu air, hal tersebut tidak menyurutkan minat mereka untuk berfoto ria. Sebagian lain memberanikan diri berbasah-basahan dengan mata air dingin itu.
Wisatawan lain, Maulana Ali (21) mengaku sangat puas melihat dua surga alam yang dikunjunginya itu. Meski tidak ikut berbasah-basahan, dirinya puas menikmati keindahan alam yang tersembunyi itu. “Ayo cari curug lagi, ini bagus sekali,” kata dia bersemangat.
(Nazar Nurdin, Kompas.com)