Dilema dan perdebatan ihwal pelabuhan Cilamaya telah mengaburkan fakta penting.
Suhaeri meneropong anjungan minyak Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java. Anjungan itu terlihat mungil dan kabur dari pantai Tanjung Baru—sebelah timur Ciparagejaya.
Hanya kobaran api dari cerobong anjungan yang nampak menonjol.
"Di bawahnya itu, pipa-pipa minyak seperti bakmi," jelas Suhaeri, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas Mina Jaladri Pasirputih, Sukajaya, Cilamaya Kulon, Karawang, Jawa Barat. Perairan pantai utara Karawang seakan telah dipagari oleh anjungan-anjungan minyak dan gas.
Anjungan minyak lepas pantai itu nampak dikitari anjungan kecil-kecil yang berupa sumur minyak dan gas. Dari sumur-sumur kecil membentang rangkaian pipa ke anjungan utama, yang didiami kru eksplorasi. Seluruh anjungan atau platform minyak itu dihubungkan oleh pipa-pipa di bawah laut yang berkelindan ruwet, saling menopang satu sama lain.
Seluruh produksi minyak dialirkan ke FSO (Floating Storage and Offloading) Arjuna—fasilitas terapung penyimpan minyak, lalu dengan kapal didistribusikan untuk memasok bahan bakar minyak nasional.
Produksi minyak PT Pertamina Hulu Energi di Laut Jawa bagian barat ini sekitar 40.000 ribu barel per hari. Saat diakuisisi oleh Pertamina Hulu Energi dari British Petroleum pada 2009, produksi minyak hanya 20.000 barel per hari. Kini, naik hingga 40.000 barel per hari. Atau meningkat 100 persen. Raihan tersebut adalah prestasi besar dengan sumberdaya putra-putra asli Indonesia.
Dari blok ini, Pertamina Hulu Energi juga menghasilkan gas sampai 190 mmscfd. Sekitar 100 mmscfd di antaranya untuk menghidupkan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap Muara Karang dan Tanjung Priok, yang mengaliri setrum daerah ring satu Jakarta, termasuk Istana Negara. Gas dari blok ini juga untuk memasok energi buat pabrik pupuk Kujang di Jawa Barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar