Teknologi, seberapa pun majunya, tak bisa menggantikan "kemanusiaan" manusia.
Teknologi, seberapa pun majunya, tak bisa menggantikan "kemanusiaan" manusia, menurut hemat para pakar penelitian bidang teknologi digital. Salah satu pakar yang mengemukakan hal ini adalah Director of The Intel RealSense Interaction Design Group Rajiv Mongia sebagaimana warta dari laman Intel.com dan computer.howstuffworks.compada Senin (23/2).
Sebagaimana diketahui, produsen-produsen teknologi digital, termasuk intel, ikut ambil bagian dalam pengembangan teknologi Augmented Reality (AR) yang mendesain pengalaman luar biasa dengan memanfaatkan teknologi, untuk memberikan jangkauan yang lebih luas dari kapasitas manusia. Termasuk, memberikan penglihatan kepada mereka yang tidak bisa melihat.
Banyak perangkat-perangkat baru yang mempermudah cara untuk memperbaiki realitas, untuk membuat hidup menjadi lebih mudah. Word Lens, yang baru-baru ini diakuisisi oleh Google Translate, bisa menerjemahkan rambu-rambu atau menu restoran ke semua bahasa. Aplikasi lain, Sky Map, bisa membantu mengidentifikasi bintang dan planet di langit malam. Di London, teknologi AR interaktif memberi petunjuk kepada para pengunjung untuk membantu menggali lebih pada pameran-pameran di museum.
Rajiv Mongia memang sedang merealisasikan bagaimana teknologi AR dapat memperluas persepsi dan bekerja sama baik dengan lingkungan fisik di sekitar kita. Mongia dan timnya sedang mengembangkan sebuah prototipe yang memiliki potensi untuk membantu tunanetra dan orang dengan gangguan penglihatan untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baik dari lingkungan sekitar.
Sistem ini, menggunakan teknologi kamera 3D dan sensor-sensor getar (vibrating sensors) yang terintegrasi ke dalam pakaian. Prototipe ini bekerja dengan melihat infomasi terdalam untuk merasakan lingkungan sekitar pengguna. Umpan balik (feedback) dikirim ke penggunanya melalui teknologi haptic menggunakan getaran motorik pada tubuh untuk memberikan umpan balik. Mongia membandingkan hal ini dengan mode vibrasi pada perangkat ponsel pintar.
"Saat ini intensitas sentuhan adalah proporsional dengan seberapa dekat objek tersebut dengan penggunanya", kata Mongia.
"Jadi jika objek sangat dekat dengan pengguna, getaran akan lebih kuat. Namun apabila objeknya jauh dari pengguna, getaran akan lebih lemah," tuturnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar